Thursday, 18 November 2010

All About Jazz


Jazz
Sumber aliran
Blues dan musik marching band Eropa
Sumber kebudayaan
Alat musik yang biasa digunakan
GitarGitar bassSaksofonTrombonPianoKlarinetTerompetDouble bassDrum – Vokal
Popularitas arus utama
Sporadis; kebanyakan dalam bentuk pop seperti swing; juga semakin berpengaruh dalam bentuk-bentuk musik populer seperti yang dinamakan "perpanjangan jazz", misalnya rhythm and blues, soul, neo soul, quiet storm, cool jazz, dan smooth jazz
Bentukturunan

Subgenre
Genre campuran (fusion)
Versi-versi regional
Topik lainnya
Jazz (cara pengucapan: [Jes], tidak pernah [Jas]) adalah aliran musik yang berasal dari Amerika Serikat pada awal abad ke-20 dengan akar-akar dari musik Afrika dan Eropa.
Musik jazz banyak menggunakan gitar, trombon, piano, terompet, dan saksofon. Salah satu elemen penting dalam jazz adalah sinkopasi.
Definisi
Double bassist Reggie Workman, pemain saksofon tenor Firaun Sanders, dan drummer Muhammad Idris tampil pada tahun 1978
Jazz bisa sangat sulit untuk menentukan karena membentang dari waltz Ragtime untuk fusi era tahun 2000-an. Meskipun banyak upaya telah dilakukan untuk menentukan jazz dari sudut pandang di luar jazz, seperti menggunakan sejarah musik Eropa atau musik Afrika, kritikus jazz Joachim Berendt berpendapat bahwa semua upaya tersebut tidak memuaskan. Salah satu cara untuk berkeliling masalah definisi adalah untuk mendefinisikan jazz "istilah" lebih luas. Berendt mendefinisikan jazz sebagai bentuk "seni musik yang berasal dari Amerika Serikat melalui konfrontasi orang kulit hitam dengan musik Eropa", ia berpendapat bahwa jazz berbeda dari musik Eropa dalam jazz yang memiliki hubungan "khusus untuk waktu, yang didefinisikan sebagai 'ayunan' "," sebuah spontanitas dan vitalitas produksi musik di mana improvisasi memainkan peran ", dan" kemerduan dan cara ungkapan yang cermin individualitas dari musisi jazz melakukan ".
Travis Jackson juga mengusulkan definisi yang lebih luas dari jazz yang mampu mencakup seluruh era yang berbeda secara radikal: ia menyatakan itu adalah musik yang mencakup kualitas seperti "berayun ', improvisasi, interaksi kelompok, mengembangkan sebuah" suara individu, dan menjadi 'terbuka' untuk kemungkinan musik yang berbeda Krin Gabbard mengklaim bahwa" jazz adalah membangun "atau kategori yang, sementara buatan, masih berguna untuk menunjuk" sejumlah musics dengan cukup umum harus dipahami sebagai bagian dari sebuah tradisi yang koheren ".
Sementara jazz mungkin sulit untuk menentukan, improvisasi jelas salah satu elemen kunci. Awal blues pada umumnya terstruktur sekitar pola panggilan-dan-respon yang berulang, unsur umum dalam tradisi lisan Afrika Amerika. Suatu bentuk musik rakyat yang meningkat di bagian dari lagu kerja dan bidang hollers Hitam pedesaan, blues awal juga sangat improvisasi. Fitur-fitur ini mendasar dengan sifat jazz. WhilProxy-Connection: hidup terus-Cache-Control: max-age = 0
dalam unsur-unsur musik klasik Eropa interpretasi, ornamen dan pendampingan kadang-kadang kiri ke kebijaksanaan yang berprestasi itu, tujuan utama adalah pemain memainkan komposisi seperti yang tertulis.
Dalam jazz, Namun, pemain ahli akan menafsirkan sebuah lagu dengan cara yang sangat individu, tidak pernah memainkan komposisi yang sama persis dengan cara yang sama dua kali. Tergantung mood pemain dan pengalaman pribadi, interaksi dengan sesama musisi, atau bahkan anggota audiens, seorang musisi jazz / pemain dapat mengubah melodi, harmoni atau waktu penandatanganan di akan. musik klasik Eropa telah dikatakan media komposer. Jazz, namun, sering ditandai sebagai produk kreativitas egaliter, interaksi dan kolaborasi, menempatkan nilai yang sama pada kontribusi dari komposer dan pelaku, 'tangkas berat [ing] klaim masing-masing komposer dan improvisasi' .
Di New Orleans dan Dixieland jazz, performer bergantian bermain melodi, sementara yang lain countermelodies improvisasi. Dengan era swing, big band datang untuk lebih mengandalkan musik diatur: pengaturan entah tertulis atau dipelajari oleh telinga dan hafal - banyak artis jazz awal tidak bisa membaca musik. solois Individu akan berimprovisasi dalam pengaturan ini. Kemudian, di bebop fokus bergeser ke arah kelompok-kelompok kecil dan pengaturan minimal; melodi (dikenal sebagai kepala "") akan dinyatakan secara singkat pada awal dan akhir bagian, tapi inti dari kinerja akan menjadi serangkaian improvisasi dalam tengah. Kemudian gaya jazz seperti jazz modal meninggalkan gagasan ketat kemajuan akord, yang memungkinkan individu musisi berimprovisasi bahkan lebih bebas dalam konteks skala tertentu atau mode. avant-garde dan idiom jazz bebas izin, bahkan memanggil, meninggalkan chords, sisik, dan meter berirama.

Telah lama ada perdebatan di komunitas jazz atas definisi dan batas-batas "jazz". Meskipun perubahan atau transformasi jazz oleh pengaruh baru awalnya sering dikritik sebagai kehinaan "," Andrew berpendapat Gilbert jazz yang memiliki kemampuan "untuk menyerap dan mengubah pengaruh" dari gaya musik yang beragam. Sementara beberapa penggemar jenis tertentu jazz berpendapat untuk definisi sempit yang mengecualikan berbagai jenis musik juga dikenal sebagai "jazz", musisi jazz sendiri sering enggan untuk mendefinisikan musik mereka bermain. Duke Ellington menyimpulkan dengan mengatakan, "Ini semua musik." Beberapa kritikus bahkan menyatakan bahwa musik Ellington bukanlah jazz karena diatur dan mengatur. Pada teman sisi lain Ellington dua puluh solo Earl Hines's "transformatif versi "komposisi Ellington (pada Earl Hines Dimainkan Duke Ellington dicatat pada tahun 1970) yang dijelaskan oleh Ben Ratliff, New York Times kritikus jazz, seperti" sebagai contoh yang baik dari proses jazz sebagai sesuatu di luar sana ".
Berorientasi komersial atau populer yang dipengaruhi musik jazz bentuk memiliki keduanya lama dikritik, setidaknya sejak munculnya Bop. penggemar jazz tradisional telah diberhentikan Bop, tahun 1970-an jazz [era fusi dan banyak lain] sebagai periode penurunan nilai komersial dari musik. Menurut Bruce Johnson, musik jazz selalu memiliki ketegangan "antara jazz sebagai musik komersial dan bentuk seni" catatan Gilbert itu. Sebagai gagasan tentang kanon jazz adalah berkembang, "prestasi masa lalu" dapat menjadi "... istimewa atas kreativitas istimewa ..." dan inovasi seniman saat Village Voice. jazz kritikus Gary Giddins berpendapat bahwa sebagai penciptaan dan penyebaran jazz semakin dilembagakan dan didominasi oleh perusahaan hiburan besar, jazz adalah menghadapi "sebuah. .. masa depan berbahaya kehormatan dan penerimaan tertarik "David Ake. memperingatkan bahwa penciptaan" norma "dalam jazz dan pembentukan tradisi jazz" "mungkin mengecualikan atau sampingan lainnya yang lebih baru, avant-garde bentuk jazz . Kontroversi juga muncul lebih dari bentuk-bentuk baru jazz kontemporer dibuat di luar Amerika Serikat dan berangkat secara signifikan dari gaya Amerika Di satu pandangan mereka merupakan bagian penting dari pengembangan saat ini jazz itu;. di lain mereka kadang-kadang dikritik sebagai penolakan terhadap tradisi jazz penting.
Asal kata "Jazz"
Asal-usul dari jazz kata adalah salah satu yang paling dicari asal-usul kata dalam bahasa Inggris Amerika modern. Bunga intrinsik Kata's - American Dialect Society menamakannya Firman Abad Twentieth - telah menghasilkan penelitian yang cukup besar, dan sejarahnya dengan baik didokumentasikan. Seperti dijelaskan lebih rinci di bawah, jazz dimulai sebagai istilah slang Pantai Barat sekitar tahun 1912, yang berarti yang bervariasi tetapi tidak mengacu pada musik atau seks. Jazz datang berarti musik jazz di Chicago sekitar tahun 1915. Jazz dimainkan di New Orleans sebelum waktu itu, tapi tidak disebut jazz.
Jazz kata membuat salah satu penampilan yang paling awal di San Francisco bisbol menulis pada tahun 1913. "Jazz diperkenalkan ke San Francisco pada 1913 oleh William (Spike) Slattery, olahraga Call editor, dan disebarkan oleh pemimpin-band bernama Seni Hickman itu tercapai. Chicago dengan 1915 namun tidak mendengar di New York sampai setahun kemudian. "Salah satu kegunaan yang dikenal pertama dari kata jazz muncul di 3 Maret 1913, artikel bisbol di San Francisco Bulletin oleh ET "Scoop" Gleeson .
Aliran-aliran dalam jazz
Alat musik yang digunakan
Pemusik jazz terkenal
Indonesia

Jerman

Friday, 29 October 2010

Peri Cintaku

di dalam hati ini hanya satu nama
yang ada di tulus hati ku ingini
kesetiaan yang indah takkan tertandingi
hanyalah dirimu satu peri cintaku
benteng begitu tinggi sulit untuk ku gapai

aku untuk kamu, kamu untuk aku
namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda
tuhan memang satu, kita yang tak sama
haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi

benteng begitu tinggi sulit untuk ku gapai

aku untuk kamu, kamu untuk aku
namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda
tuhan memang satu, kita yang tak sama
haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi

bukankah cinta anugerah berikan aku kesempatan
tuk menjaganya sepenuh jiwa oooh

tuhan memang satu, kita yang tak sama
haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi

tuhan memang satu, kita yang tak sama
haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi

Tuesday, 26 October 2010

Tugas Softskill

Wayang


Batara Guru (Siwa) dalam bentuk seni wayang Jawa.

Wayang dikenal sejak zaman prasejarah yaitu sekitar 1500 tahun sebelum Masehi. Masyarakat Indonesia memeluk kepercayaan animisme berupa pemujaan roh nenek moyang yang disebut hyang atau dahyang, yang diwujudkan dalam bentuk arca atau gambar.
Wayang merupakan seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Pulau Jawa dan Bali. Pertunjukan wayang telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan sangat berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).
Ada versi wayang yang dimainkan oleh orang dengan memakai kostum, yang dikenal sebagai wayang orang, dan ada pula wayang yang berupa sekumpulan boneka yang dimainkan oleh dalang. Wayang yang dimainkan dalang ini diantaranya berupa wayang kulit atau wayang golek. Cerita yang dikisahkan dalam pagelaran wayang biasanya berasal dari Mahabharata dan Ramayana.
Pertunjukan wayang di setiap negara memiliki teknik dan gayanya sendiri, dengan demikian wayang Indonesia merupakan buatan orang Indonesia asli yang memiliki cerita, gaya dan dalang yang luar biasa.
Kadangkala repertoar cerita Panji dan cerita Menak (cerita-cerita Islam) dipentaskan pula.
Wayang, oleh para pendahulu negeri ini sangat mengandung arti yang sangat dalam. Sunan Kali Jaga dan Raden Patah sangat berjasa dalam mengembangkan Wayang. Para Wali di Tanah Jawa sudah mengatur sedemikian rupa menjadi tiga bagian. Pertama Wayang Kulit di Jawa Timur, kedua Wayang Wong atau Wayang Orang di Jawa Tengah, dan ketiga Wayang Golek di Jawa Barat. Masing masing sangat bekaitan satu sama lain. Yaitu "Mana yang Isi(Wayang Wong) dan Mana yang Kulit (Wayang Kulit) harus dicari (Wayang Golek)".

Wayang dan Para Pakar Budaya Dunia
Bangsa Indonesia, baik yang di kota maupun di pelosok-pelosok kampung sangat yakin dan begitu mudahnya mengatakan bahwa wayang adalah warisan peninggalan seni budaya nenek moyang yang “adi luhung”. Namun penulis yakin bahwa tidak banyak orang yang tahu persis apa makna “adi luhung” tersebut.
Menurut Ki Narto Sabdho dalam (rekaman Pagelaran Wayang Lampahan Kresna Dutha, 1978) menjelaskan bahwa istilah “adi luhung” berasal dari kata “adi” dan “luhung”. “Adi” merupakan padankata (Jawa: dasanama) atau punya makna “indah” (dalam istilah Jawa “linuwih”), sedangkan “luhung” merupakam sinonim dari kata “luhur” yang dapat diberikan makna “mengadung nilai kebijakan (filsafat) tinggi”. Dengan demikian, menurut Ki Narto Sabdho lebih lanjut, “adi luhung” dapat diberi makna bernilai keindahan dan bernilai filosofis yang sangat tinggi.
Pernyataan Ki Narto Sabdho di atas tidaklah berlebihan. Hal ini terbukti banyak para ahli filsafat, seni, dan budaya, baik dari dalam negeri maupun dari mancanegara yang begitu antusias untuk mengadakan pendekatan pemahaman, bahkan mengadakan penelitian-penelitian tentang wayang di Indonesia.
Beberapa peneliti wayang dari dalam negeri misalnya, Sri Moelyono, Suyamto,Umar Khayam, Marbangun Hardjowirogo, Maria A. Sardjono, S Padmosoekotjo, Nyoman S.. Pendhit, Pandam Guritno, Seno Sastro amidjojo, Purbotjaroko, Sutarno, Subagyo WS., Yosodipuro, Kethut Nila, dan lain-lain.
Sedangkan peneliti dari mancanegara beberapa di antaranya adalah Thomas Stanford Raffles, William Buck, G.A.J. Hazeu, W.H. Rassers, Brandes, Cohen Stuart, Kerns, Nicholas J. Krom, Lin Yutang, Zoetmulder, Radhakrishnan, Rajagopalachari, Karel Frederik Winter, B.R.O.G.  Anderson, Harry Aveling, G. Coedes,George A. Fowler, Roggie Cale, Joe C. Barlett, Clifford Geertz, Howard  P. Jones, K. Chaytanya, dan lain-lain.
Tentu saja masih banyak para pemerhati, peminat, dan peneliti wayang  yang tidak mungkin kesemuanya dicatat di sini. Lebih-lebih para peneliti terbaru, para peneliti muda, baik dalam maupun mancanegara, yang masih terus dan terus meneliti wayang.
Terlebih lagi setelah pada tahun 2002 pakar budaya dari seluruh jagat raya berkumpul dan berkomitmen di Paris Perancis, yang akhirnya melahirkan sebuah deklarasi luhur demi keselamatan warisan budaya yang disebut “wayang”.
Isi deklarasi Paris tersebut: “WAYANG ADALAH MERUPAKAN WARISAN BUDAYA AGUNG DUNIA”. Konsekuensi dari deklarasi ini adalah sebuah rekomendasi kepada pemerintah negara di segenap penjuru dunia termasuk Lembaga Kebudayaan di PBB, agar ikut melestarikan, mengembangkan, dan menyelamatkan warisan budaya dunia yang dikatakan agung atau adi luhung ini.
Wayang dan Asal-Usulnya
Masyarakat Indonesia pada umumnya, baik yang berada pada komunitas awam budaya maupun komunitas sadar budaya, sangat yakin bahwa wayang adalah kesenian asli milik bangsa Indonesia. Namun  sebagian besar dari kita, belum menemukan alasan yang maton, tentang klaim keaslian budaya wayang milik bangsa Indonesia.
Untuk mendasari keyakinan tersebut diperlukan pemahaman sejarah wayang itu sendiri, meski tak harus banyak atau sepenuhnya. Untuk itu di bawah ini  akan dipaparkan pendapat Sri Mulyono (dalam bukunya: Wayang, Asal-Usulnya, Filsafat dan Masa Depannya: 1975).
Pendapat Sri Mulyono ini merupakan perpaduan pendapat  dari hasil penelitian literer karya pakar-pakar wayang dari mancanegara dan karya peneliti yang bersal dari bangsa Indonesia sendiri. Buku tentang wayang dan segala seluk-beluknya yang diteliti oleh Sri Mulyono antara lain buku-buku karya Soeroto, KGA Koesoemodilogo, Nyoman S.. Pendit, G.A.J. Hazeu, W.H. Rassers, Brandes, Cohen Stuart, dan Kerns.
Dari para pakar wayang di atas dapat disimpulkan oleh Sri Mulyono tentang asal-usul wayang tersebut, terbagi menjadi dua kelompok pendapat, antara lain:
(1) Pertunjukan wayang  sebenarnya bersumber, atau setidak-tidaknya terpengaruh oleh pertunjukan tonil India Purba, yang disebut Chayanataka.
Dalam keterangannya lebih lanjut, Sri Mulyono memberi penjelasan bahwa Chayanataka itu semacam sandiwara atau drama purba, dengan pemain orang tetapi dihalangi semacam tabir, atau layar tipis.
Seluruh penonton berada di balik tabir, sehingga hanya dapat melihat bayang-bayang para pemainnya. Model melihat tonil sandiwara hanya melihat bayang-bayang inilah yang dijadikan alasan sebagian para peneliti untuk menyimpulkan bahwa wayang berasal dari India.
Hal ini mirip dengan cara menyaksikan pertujukan wayang pada jaman dahulu (juga sampai masa kini sebagian penonton masih melakukan cara ini), yaitu menonton pergelalaran wayang dari belakang kelir.
(2). Kelompok  yang  lain berpendapat  bahwa  pertunjukan  kesenian wayang  sebenarnya  merupakan produk seni budaya asli Indonesia. Hal ini diperkuat dengan alasan keberadaan peralatan yang digunakan.
Peralatan-peralatan tersebut antara lain anak wayang, gamelan, keprak, cempala, jenis-jenis gedhing dan cara mengiringi ilustrasi saat pergelaran wayang, dan segala asesorisnya. Semua perlengkapan tersebut tidak ada di satu negarapun kecuali hanya di negara Indonesia.
Satu-satunya hal yang mempengaruhi pertunjukan wayang pada perkembangan selanjutnya adalah cerita atau lakonnya, yang biasanya diambil dari epos Mahabharata dan Ramayana.Namun kedua buku sumber cerita tersebut telah diadopsi, dimodifikasi dan digubah agar lebih sesuai dengan perilaku budaya, etika, dan estetika asli bangsa Indonesia.
Hal ini akhirnya membawa resiko ambiguitas antara cerita Mahabharata/ Ramayana dengan gubahan cerita para Empu dari bumi Nusantara, semisal Empu Sedah dan Panuluh dengan karyanya Bharatayudha, Empu Kanwa dengan karyanya Arjunawiwaha, Empu Darmaja dengan karyanya Gatutkaca Sraya, dan lain sebagainya.
Contoh karya-karya tersebut kadang memang mengalami beberapa benturan ketidakserupaan dengan buku epos aslinya, Mahabharata dan Ramayana, baik alur cerita, latar belakang tempat dan waktu, serta tokoh dan penokohannya.
Contoh yang lebih jelas lagi misalnya, pada epos Mahabharata dan Ramayana tidak ada tokoh punakawan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong, tetapi pada pergelaran wayang di manapun di Indonesia, tokoh punakawan tersebut tak pernah untuk tak dihadirkan.
Inilah yang dijadikan alasan kuat oleh para ahli pewayangan, bahwa wayang memang produk seni dan budaya asli Indonesia.
Pendapat
Pada bagian tulisan di atas telah dipaparkan bahwa antusiasme para peneliti dan peminat kesenian wayang tak kunjung berhenti, bahkan sampai kapanpun. Para peminat wayang dari mancanegara semakin meningkat tajam dari sisi kuantitas maupun kualitasnya.
Saat ini sudah tak terhitung dengan jari berapakah jumlah  seniman wayang yang berkebangsaan Perancis, Belanda, Belgia, Amerika Serikat, Australia, Selandia baru, Jepang, China, Korea, Thailand, dan bahkan India.
Mereka tidak sekedar mampu mendalang, tapi juga menjadi pengrawit, pesinden, dan kompetensi lain yang erat terkait dengan dunia wayang, termasuk tatah sungging. Fenomena ini sangat jelas dapat dilihat di kota utama pelestari wayang, misalnya di Surakarta dan sekitarnya, dan Jogjakarta, Surabaya, Malang, Bandung (wayang golek Sunda) dan Denpasar Bali (wayang kulit Bali).
Di lain sisi, kita betul-betul merasakan bahwa antusiasme kita sebagai pewaris asli seni budaya wayang justru mengalami kemunduran. Hal ini tampak pada tingkat pengenalan wayang oleh para remaja dan anak-anak.
Mereka pada umumnya merasa asing dengan tokoh-tokoh pewayangan, seni karawitan, dan tembang-tembang tradisional semacam tembang dolanan dan macapat. Apalagi jenis tembang-tembang yang lain semisal tembang tengahan Jurudemung, Balabak, Wirangrong, dan tembang-tembang gedhe semisal Kenya Kedhiri, Pamularsih, Sekarteja, dan lain-lain.
Melihat fenomena ini maka tak salah kalau kemudian  muncul anekdot atau joke-joke yang terlontar dari para budayawan kita, misalnya ada yang mengatakan bahwa sekian tahun kemudian kita musti belajar nembang dan sulukan ke negeri Matahari terbit.
Mungkin kita juga perlu sekedar belajar menabuh gender ke negara Kanguru, belajar menggesek rebab ke Selandia Baru, belajar sabet ke Perancis, belajar mancal kecrek ke Suriname, belajar menabuh bonang ke Amerika dan belajar-belajar tentang lainnya di dunia pewayangan.
Saat ini joke-joke tersebut lebih cenderung humoristik. Namun siapa tahu situasi dan kondisi tersebut benar-benar terjadi? Maka dari itu kita tak boleh terlena dari hal-hal yang kelihatannya sederhana tentang dunia wayang ini. Kita musti ingat bahwa masyarakat dunia begitu tingginya menghargai seni budaya kekayaan kita. Mengapa justru kita semakin lupa bahwa kitalah pewaris asli harta budaya tersebut.
Kalau alasan kita untuk hal ini terkait dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern  yang merambah begitu cepat di negari Indonesia tercinta ini, rasanya tidak tepat dan tidak bijaksana. Hal ini dikarenakan bahwa tingkat kemajuan iptek tidak hanya terjadi di negara kita, bahkan kita mengakui di negara barat, dan Asia timur justru tingkat kemajuan ipteknya jauh meninggalkan kita.
Tapi mengapa justru mereka sangat antusias terhadap pelestarian dan pengembangan wayang?
Inilah sesuatu permasalahan tentang dunia seni budaya pewayangan kita saat ini. Intinya kita harus segera menyadari pentingnya merawat, memupuk, melestarikan dan mengembangkan wayang di bumi Indonesia Raya.
Sasaran yang tepat untuk dibina, dikenalkan, dan diajarkan hal seluk beluk wayang tentu saja para remaja dan anak-anak usia sekolah, yang merupakan generasi penerus dan pemegang tongkat estafet kekayaan budaya yang tak ternilai harganya. Jangan sampai wayang ini tiba-tiba diklaim sebagai asset budaya milik bangsa lain, sebagaimana Reog Ponorogo yang telah dirampok dan dipatenkan oleh negara tetangga kita. Bagaimana dengan kita tentang wayang?


Sumber: wikipedia 
             http://sulang.wordpress.com/2009/03/12/wayang-kita-dan-jagat-raya/

shared